Feeds:
Posts
Comments

Archive for September, 2010

diawali dengan banyak hal yang membuatku merasa kalau setiap langkah yang kujejakkan tak semudah membalikkan telapak tangan.

aku tahu, untuk merangkai pelangi itu membutuhkan detil-detil keindahan di setiap jejak

butuh ekstra hati-hati, butuh ekstra kesabaran ..

itu yang aku belum bisa, dan berusaha untuk mencapainya.

entah kenapa tiba-tiba merasa sangat-sangat tidak berarti. nol besar.

sungguh bersyukur berada di dekat orang2 yang peduli.

yang benar-benar menyayangi dengan hati.hangat pelukan mereka.

itu yang meredam lukaku.mengeringkan luka perih itu.

jari-jari kita tergenggam erat, seolah tak ingin lepas.

aku tak ingin ruang-ruang itu kosong, kawan..

aku suka saat-saat bersamamu.

aku suka menghabiskan waktu dengan tertawa lepas, bergandengan tangan

kita suka berebutan untuk bercerita segala hal yang terbaru mengenai masing2

ah, sungguh tak ingin kuakhiri..

aku ingat saat itu,saat kita diterpa ombak

benar katamu, kita sedang mengarungi samudera luas yang ombaknya ganas

tapi kita tetap bersama

aku tak kuat untuk membendung rasa sakit karena ombak itu

sambil memandang langit cerah, aku bercerita

aih, kita semua iri melihat kebebasan burung melayang itu

terbang bebas, melayang, menuju puncak awan tertinggi

kapan ya kita bisa seperti itu?

tanpa beban, melayang ringan

semoga suatu saat..

setidaknya beberapa detik dari keseluruhan keping hidup

itu, sudah lebih dari cukup

aku tengadah..merapatkan jari-jari tanganku

menyatukan bibir dan kecupan

aku menyatu dalam hening paro malam

aku selalu berbisik pada-Nya

hatiku berbicara,

menguapkan rasa

menumpahkan kasih mesra di balik jiwaku

setelah itu, aku tersenyum

ah, leganya, akhirnya badai itu pergi jua ..

esok nya aku bertemu kalian lagi

itu yang kutunggu-tunggu

ah, sebelum aku sempat bertemu kalian,

tahukan kalian?aku sudah menitipkan cerita tentang kita pada sang awan

agar kita terlindung dari terik menyengat itu

terik yang sempat membuat hitam rajutan indah kita

panas memang, tapi tenang, ada awan 🙂

itulah, setiap pertandingan pasti ada yang tersisih,

terkalahkan entah oleh apa dan siapa

taukah kalian?aku sempat merasa kalah dalam pergulatan panjang batinku

aku hapus jejakku-berjalan mundur

aku hanya bagian kecil dari permainan besar nan nyata ini

sangat berkelok-kelok, panjang

aku terus berjalan dan berlari

mengoleksi segala yang kutemui

menggurat kenangan, menggoreskan sejarah

dari atas gunung tinggi aku berguling

terus jatuh, bergulir

menuju tempat datar

dan saat aku berhenti dan terpecah

angin menerbangkanku ke jeram

melautkanku ke pantai

adakah tempat yang lebih rendah?

aku kalah..

di tempat nan rendah itu,

sunyi, meski jantungku berdebar keras

menyuarakan ruh-Mu

tak ada balasan, aku hanyut dalam kehampaan itu

segalanya melebur di kesunyian padang ilalang

tertunduk bisu aku tunduk pada-Mu

mengikuti alur dari-Mu

aku takut tak bisa bangkit lagi

tangan ini bak terbelenggu, kakiku terikat perih

kering tenggorokan menyerang

tapi gelombang menenggelamkanku

aku ingin mereguk nikmat cahaya-Mu

hingga menelusup di kalbuku

aku berteriak pada penjuru angkasa hingga bergema

AKU PUNYA KALIAN !!!

sahabatku, jangan hitung tahun-tahun yang sudah lewat

hitunglah saat-saat yang indah

karena hidup tidak diukur dengan banyaknya nafas yang kita hirup,

melainkan dengan saat-saat di mana kita menarik nafas bahagia 🙂

*didedikasikan untuk kalian, yang tak pernah berhenti memberi warna dalam hidupku

terima kasih 🙂

Read Full Post »

ini puisi PTB

juara ternyata 😀

ratusan detik kuhabisi

jalanan lengang kutentang

telah lama kunanti detik ini

detik berharga, menjangkau hidup mereka

adakah dunia mengerti?

baktiku, kukucurkan tanpa sisa

bermimpi lelah tak sia-sia

berharap kelak memijak jejak

jejak asa di angan mereka

adakah dunia peduli?

sebuah bentuk cinta

cinta nan sederhana

empati yang tanpa berlebihan

tak berdaya, murni, namun sarat nuansa

harapan, impian, cita

paket sempurna tuk dibagi

pula dirasakan yang tercinta

semoga mereka tak lelah bermimpi

mereka tak bimbang lagi

walau sesak udara di puncak khayal

walau pedih di jurang kecewa

telah kutemukan, teduh mata itu

jangan berjalan, waktu

ingin terus bersama mereka

siaga mendekap mereka

tanpa isyarat pura-pura

untuk mereka, yang spesial di relung jiwa 🙂

mei 2010

Read Full Post »